Asam Asetil Salisilat (Aspirin)

Apakah kalian pernah minum obat sakit kepala, pengencer darah, atau penurun panas untuk anak? kalau pernah, apakah kalian membaca kandungan yang ada di kertas obat tersebut? Kalau pernah melihat, pasti kalian akan menemukan kandungan asam asetil salisilat atau biasa disebut aspirin atau asetosal. berikut pembahasan lebih lajut mengenai asam asetil salisilat termasuk efek samping dari kandungan ini.

Sejak zaman dulu efek dari Cortex salicis telah dikenal dan simplisia ini cukup luas penggunaannya sebagai obat. Zat yang berkhasiat disini adalah asam salisilat. Asam salisilat bebas hanya mempunyai efek antipiretik dan analgetik yang ringan.

Penggunaan aspirin memasuki babak baru saat Sir John Vane menunjukkan bahwa mekanisme kerja utama dari asam asetilsalisilat adalah inhibisi sintesis prostaglandin. Studi klinis dan eksperimental selanjutnya menunjukkan bahwa aspirin dosis rendah secara ireversibel mengasetilasi residu serine di posisi 530 pada enzim siklooksigenase-1 (COX-1) trombosit sehingga memblokade sintesis prostaglandin G2/H2 (gambar 1). Reaksi ini merupakan langkah pertama dalam serangkaian reaksi yang memungkinkan transformasi asam arakidonat menjadi agonis trombosit yang poten, yaitu tromboksan A2. Efek ini yang memberi manfaat klinis aspirin pada pasien penyakit jantung koroner dan stroke.
Aspirin atau asam asetilsalisilat sangat berbeda dengan bentuk pendahulunya, yaitu asam salisilat. Hal ini dikarenakan bentuk asetilasi dari asam salisilat ini memiliki tolerabilitas yang lebih sempurna dengan efek samping gastrointestinal yang lebih ringan. Aspirin merupakan salah satu obat yang paling banyak dan paling luas digunakan di seluruh dunia, terutama sebagai obat anti-inflamasi dan antirematik.
Turunan yang terpenting dari asam salisilat ini adalah asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin.Berbeda dengan asam salisilat, asam asetil salisilat memiliki efek analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan asam salisilat. Penggunaan obat ini sangat luas di masyarakat dan digolongkan ke dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini juga digunakan sebagai standar dalam menilai efek obat sejenis.
Asam salisilat bebas hanya memiliki efek antipiretik dan analgetik yang rendah. Karena timbulnya ransangan pada mukosa lambung akibat diperlukannya dosis tinggi, maka asam salisilat hanya dipergunakan dalam bentuk garamnya. Turunannya yang terpenting adalah asam asetil salisilat yang aktivitas analgetik, antipiretik tetapi juga antiflogistiknya besar.
Asam asetil salisilat adalah senyawa berupa kristal tidak berwarna, yang sedikit larut dalam air, sebaliknya mudah larut dalam pelarut organik polar seperti etanol. Dibandingkan asam salisilat, asam asetil salisilat merupakan asam yang lebih lemah. Pada pelarutan dengan penambahan basa akan terjadi hidrolisis yang cepat atau lambat menjadi salisilat dan asetat tanpa tergantung pada konsentrasi ion OH-. Selain itu dalam suasana asam juga akan terhidrolisis. Untuk menghindari penguraian ini, (bau asam asetat) harus dibuat bebas dari kelembapan udara. Untuk membuat larutan injeksi yang pekat dalam air digunakan D,L-lisin mono asetilsalisilat yang nerupakan garam lisin asam asetil salisilat.
Asam salisilat dapat diperoleh menurut cara Kolbe-Schmitt dengan hasil hampir kuantitatif melalui reaksi natrium fenolat dan karbondioksida pada 1250C dan 4-7 bar dan kemudian dihidrlolisis. Asam asetilsalisilat diperoleh dengan cara asetilasi asam salisilat dengan katalisis proton.
Untuk pemurnian asam asetil salisilat dapat digunakan larutan besi (III) klorida. Pembentukan kompleks besi-fenol dengan Fe (III) memberikan warna dari merah hingga violet, yang dipercaya bahwa partikel phenol masih ada.
Salisilat merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai analgesik,antipiretik dan anti-inflamasi. Aspirin dosis terapi bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik. Dengan dosis ini laju metabolisme juga meningkat. Pada dosis toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga terjadi demam dan hiperhidrosis pada keracunan berat.
Aspirin merupakan obat anti¬trombosis yang poten dan efek¬tivitas¬nya dalam tata laksan¬a pasien dengan sindrom koroner akut diakui dengan baik dan menjadi bagian dari terapi standar. Berbagai studi telah membuktikan bahwa aspirin menurunkan risiko kematian akibat kejadian kardiovaskular, infark miokard baru, dan iskemia rekuren.2 Sebuah studi meta-analisis (Antithrombotic Trialists’ Collaboration: 287 studi random terapi antitr¬ombosis pada pasien berisiko tinggi mengalami kejadian penyumbatan vaskular1) yang membanding¬kan tata laksana dengan berbagai dosis aspiri¬n dengan tanpa aspirin menunjukkan adanya 19% penurunan yang proporsional dalam kejadian vaskular (gabunga¬n dari infark miokard nonfatal, stroke nonfatal, atau kematian akibat vaskular atau lainnya) denga¬n dosis 500-1500 mg perhari; 26% dengan dosis 160-325 mg perha¬ri; 32% de¬nga¬n 75-150 mg perhari; dan 13% dengan dosis <75 mg perhari.2

Physician’s Healus mengungkap kaitan antara inflamasi kronik dengan aterotrombosis. Para peneliti menemukan bahwa kadar protein reaktif C (CRP) merupakan faktor prediksi terjadinya infark miokard dan stroke. Selain itu, mereka juga menemukan bahwa penurunan risiko infark miokard pertama yang paling besar dan paling signifikan yang berkaitan dengan penggunaan aspirin terjadi pada pria dengan kadar CRP awal pada kuart¬il tertinggi. Aspirin sebagai pencegahan sekunder pasca-infark miokard akut juga dibuktikan oleh studi ISIS-2 (Second International Study of Infarct Survival). Dalam studi ini, setelah pemberian 162,5 mg aspirin selama 35 hari pasca-infark miokard akut, tingkat mortalitas kelompok aspirin sebesar 9,4% sedangkan kelompok plasebo sebesar 12,0% (rasio risiko 0,78; 95% interval konfidens [CI] 0,71 sampai 0,85; p<0,0001). Peran aspirin dalam pencegahan primer penyakit vaskular dicantumkan pada tabel 1.1

Sebuah riset independen Retail Audit Nielsen, Indonesia Urban mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen konsumsi obat penurun demam anak di wilayah perkotaan di Indonesia adalah mengandung asam asetilsalisilat (acetyl salicylic acid). Asam asetilsalisilat adalah jenis bahan aktif yang tidak sesuai untuk konsumsi anak-anak karena diduga dapat menyebabkan sindroma Reye.

Bagaimana kerja asetosal sebagai obat turun panas dan penghilang nyeri (analgesik)?
Asam asetil salisilat atau asetosal banyak dijumpai dalam berbagai nama paten, salah satunya yang terkenal adalah Aspirin. Seperti halnya obat-obat analgesik yang lain, ia bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi. Ia terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda.
Prostaglandin juga merupakan senyawa yang mengganggu pengaturan suhu tubuh olehhipotalamus sehingga menyebabkan demam. Hipotalamus sendiri merupakan bagian dari otak depan kita yang berfungsi sebagai semacam “termostat tubuh”, di mana di sana terdapat reseptor suhu yang disebut termoreseptor. Termoreseptor ini menjaga tubuh agar memiliki suhu normal, yaitu 36,5 – 37,5 derajat Celcius.
Pada keadaan tubuh sakit karena infeksi atau cedera sehingga timbul radang, dilepaskanlah prostaglandin tadi sebagai hasil metabolisme asam arakidonat. Prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus, di mana hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (di atas suhu normal). Adanya peningkatan titik patokan ini disebabkan karena termostat tadi menganggap bahwa suhu tubuh sekarang dibawah batas normal. Akibatnya terjadilah respon dingin/ menggigil. Adanya proses mengigil ini ditujukan utuk menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak. Adanya perubahan suhu tubuh di atas normal karena memang “setting” hipotalamus yang mengalami gangguan oleh mekanisme di atas inilah yang disebut dengan demam. Karena itu, untuk bisa mengembalikan setting termostat menuju normal lagi, perlu menghilangkan prostaglandin tadi dengan obat-obat yang bisa menghambat sintesis prostaglandin.
Efek samping asetosal?
Selain memiliki efek utama sebagai obat anti radang dan turun panas, asetosal memiliki beberapa efek lain sebagai efek samping. Efek samping yang pertama adalah asetosal dapat mengencerkan darah. Kok bisa? Ya…., karena asetosal bekerja secara cukup kuat pada enzim COX-1 yang mengkatalisis pembentukan tromboksan dariplatelet, suatu keping darah yang terlibat dalam proses pembekuan darah. Penghambatan sintesis tromboksan oleh asetosal menyebabkan berkurangnya efek pembekuan darah. Sehingga, asetosal bahkan dipakai sebagai obat pengencer darah pada pasien-pasien pasca stroke untuk mencegah serangan stroke akibat tersumbatnya pembuluh darah.
Apa implikasinya? Karena dia memiliki efek pengencer darah, maka tentu tidak tepat jika digunakan sebagai obat turun panas pada demam karena demam berdarah. Bayangin,… pada demam berdarah kan sudah ada risiko perdarahan karena berkurangnya trombosit, kok mau dikasih asetosal yang juga pengencer darah…. Apa ngga jadi tambah berdarah-darah tuh….. !!
Efek samping yang kedua dari asetosal atau Aspirin, dan sering menimpa anak-anak, adalah terjadinya Sindrom Reye, suatu penyakit mematikan yang menganggu fungsi otak dan hati. Gejalanya berupa muntah tak terkendali, demam, mengigau dan tak sadar. Banyak studi telah menunjukkan adanya hubungan antara kejadian syndrome Reye pada anak-anak dengan penggunaan aspirin. Memang sih, angka kejadiannya tidak terlalu banyak, tapi sekali terjadi akibatnya sangat fatal. Sehingga, aspirin direkomendasikan untuk tidak digunakan sebagai turun panas pada anak-anak.
Efek samping asetosal yang ketiga sama dengan obat analgesik golongan AINS lainnya, adalah gangguan lambung. Aspirin atau asetosal termasuk salah satu analgesik yang sering dilaporkan memicu kekambuhan asma, sehingga perlu hati-hati juga untuk pasien yang punya riwayat asma.
Kekuatiran lain dari penggunaan asetosal adalah seringkali mereka ditampilkan dalam bentuk seperti permen jeruk. Tujuannya supaya anak tidak merasa sedang minum obat, karena seperti makan permen. Tapi justru bisa jadi, karena dianggap permen, anak-anak bisa minta lebih dari dosis yang seharusnya. Jika menyimpannya tidak hati-hati, anak-anak bisa cari sendiri “permen” tadi dan mengkonsumsinya tanpa sepengetahuan ortunya. Sehingga bisa dibayangkan jika asetosal dikonsumsi dalam dosis lebih dari seharusnya…..
Obat pilihan untuk turun panas pada anak-anak
Sampai sejauh ini, obat pilihan untuk analgesik dan antipiretik (turun panas) pada anak-anak masing dipegang oleh parasetamol. Obat ini relatif aman dari efek samping seperti yang dijumpai pada aspirin jika dipakai dalam dosis terapi yang normal. Efek sampingnya berupa gangguan hati/liver dapat terjadi hanya jika dipakai dalam dosis yang relatif besar (> 4 gram sehari). Namun perlu diketahui bahwa parasetamol tidak memiliki efek anti radang seperti aspirin atau analgesik OAINS lainnya.
Mengapa parasetamol relatif lebih aman dari efek samping?
Terdapat sedikit perbedaan mekanisme aksi parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik. Ternyata, selain ada enzim siklooksigenase COX-1 dan COX-2 yang mengkatalisis pembentukan prostaglandin di jaringan, ada pula COX-3, yang lebih banyak terdapat di otak dan sistem saraf pusat. Nah, parasetamol ini ternyata lebih spesifik menghambat COX-3 yang ada di otak tadi, sehingga menghambat produksi prostaglandin yang akan mengacau termostat di hipotalamus tadi. Kerja ini menghasilkan efek menurunkan demam. Selain itu, karena prostaglandin juga terlibat dalam menurunkan ambang rasa nyeri, maka penghambatan prostaglandin dapat memberikan efek anti nyeri atau analgesik. Karena spesifik pada COX-3, tidak menghambat COX-2, maka efeknya sebagai anti radang di jaringan jadi kecil. Di sisi lain, karena juga tidak menghambat COX-1, maka efeknya terhadap gangguan lambung juga kecil karena tidak mempengaruhi produksi prostaglandin jaringan yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung. Juga tidak memiliki efek mengencerkan darah. Jadilah,… parasetamol relatif aman terhadap efek samping lambung, perdarahan, asma, dan juga syndrom Reye, dan merupakan pilihan yang aman dan tepat untuk obat turun panas dan analgesik pada anak-anak.

Leave a Comment